Sektor pariwisata masih menjadi magnet utama investasi di Bali, khususnya pada bidang properti, hotel, vila, dan hospitality.
Akademisi Universitas Warmadewa Dr. Putu Ngurah Suyatna Yasa, S.E., M.Si., mengatakan investor cenderung membidik wilayah dengan pertumbuhan cepat dan tingkat kunjungan wisata yang tinggi. Di Bali, tiga tiga kawasan tersebut dinilai memiliki daya tarik paling kuat.
Di luar pariwisata, Suyatna Yasa menilai sektor ekonomi kreatif juga memiliki prospek besar. Hal ini sejalan dengan struktur ekonomi Bali, di mana hampir 99 persen pelaku usaha merupakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Usaha berbasis kerajinan, kuliner, fesyen, serta produk budaya lokal menjadi penopang utama ekonomi masyarakat.
Ia juga menyoroti potensi investasi di sektor hilirisasi komoditas unggulan Bali, seperti rumput laut, udang, dan kopi. Komoditas tersebut dinilai memiliki nilai tambah dan peluang ekspor tinggi apabila didukung industri pengolahan di dalam daerah.
Meski demikian, Wakil Rektor Bidang SDM, Keuangan, dan Operasional Universitas Warmadewa ini menegaskan bahwa seluruh investasi harus tetap berlandaskan kearifan lokal, perlindungan lingkungan, serta prinsip keberlanjutan. Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi kunci agar daya tarik Bali tetap terjaga dalam jangka panjang.