Antrean kendaraan menuju Pelabuhan Gilimanuk saat arus mudik Lebaran 2026 kembali menjadi sorotan.
Kepadatan antrean bahkan dilaporkan mencapai sekitar 30 kilometer, dengan waktu tunggu pemudik hingga 20 jam sebelum bisa menyeberang menuju Pelabuhan Ketapang, Jawa Timur.
Situasi tersebut memunculkan kembali usulan penambahan dermaga di lintasan penyeberangan Gilimanuk–Ketapang. Namun, akademisi teknik dari Universitas Warmadewa, Prof. Putu Rumawan Salain, menilai persoalan antrean ekstrem itu tidak bisa disederhanakan hanya pada kekurangan dermaga.
Menurut Rumawan, kemacetan di pelabuhan penyeberangan harus dianalisis secara menyeluruh, mulai dari kapasitas dermaga, jumlah armada kapal, hingga manajemen operasional. Ia menilai keputusan pembangunan infrastruktur baru perlu didasarkan pada analisis data historis.
“Harus dilihat dulu, apakah benar dermaganya yang kurang atau justru kapal yang tidak mencukupi. Jangan setiap macet langsung menyimpulkan perlu bangun dermaga,” ujar Rumawan, Selasa (7/4/2026).
Ia mencontohkan, pada beberapa kejadian antrean panjang sebelumnya, kondisi lalu lintas penyeberangan mulai lancar setelah adanya tambahan kapal dari luar daerah. Hal itu, menurut dia, mengindikasikan bahwa titik persoalan bisa saja berada pada ketersediaan armada, bukan semata kapasitas sandar.
Rumawan juga menyoroti jenis kapal yang beroperasi di lintasan tersebut. Ia menilai penggunaan kapal berkapasitas kecil dalam jumlah banyak tidak selalu efisien ketika volume kendaraan dan penumpang terus meningkat.
“Kapal harus disesuaikan dengan kapasitas dan kondisi gelombang. Kalau masih banyak kapal kecil, sebaiknya diganti dengan kapal yang lebih besar dan memadai,” katanya.
Meski demikian, ia tidak menutup kemungkinan penambahan dermaga dilakukan apabila memang dibutuhkan. Namun langkah tersebut harus melalui studi kelayakan yang komprehensif, termasuk menghitung jumlah titik sandar yang diperlukan, frekuensi kedatangan kapal, serta waktu bongkar muat kendaraan dan penumpang.
Selain faktor armada dan infrastruktur, Rumawan juga menyoroti pola perjalanan masyarakat yang cenderung menumpuk pada waktu tertentu. Tanpa pengaturan yang baik, lonjakan penumpang pada periode mudik atau libur panjang akan terus memicu kepadatan.
Ia menilai tekanan terbesar di lintasan Gilimanuk–Ketapang justru berasal dari pergerakan penumpang, khususnya wisatawan domestik, dibandingkan distribusi logistik. Karena itu, pengaturan jadwal perjalanan serta edukasi kepada masyarakat dinilai penting untuk mengurangi penumpukan kendaraan.
“Kalau sudah tahu akan padat, sampaikan ke publik agar berangkat lebih awal. Jangan semua menumpuk di satu waktu,” ujarnya.
Rumawan menegaskan bahwa pengelolaan transportasi penyeberangan perlu dilakukan secara menyeluruh, mencakup armada, infrastruktur, hingga manajemen operasional. Tanpa pendekatan yang komprehensif, solusi yang diambil berisiko tidak menyentuh akar persoalan.