Krisis Pangan Mengintai, Akademisi Dorong Revolusi Pertanian Berbasis Ekologi

May 13, 2026 |
Zero Hunger Responsible Consumption and Production Climate Action Life on Land
Krisis Pangan Mengintai, Akademisi Dorong Revolusi Pertanian Berbasis Ekologi
Krisis Pangan Mengintai, Akademisi Dorong Revolusi Pertanian Berbasis Ekologi

Ancaman krisis pangan global kian nyata di tengah tekanan perubahan iklim yang memicu penurunan produktivitas dan degradasi lingkungan. Kondisi ini mendorong kalangan akademisi untuk mempercepat transformasi sistem pertanian menuju pendekatan berbasis ekologi yang lebih berkelanjutan.

Akademisi dari Oxford Brookes University, Marco Campera, menilai sistem pertanian global saat ini menghadapi tekanan ganda, yakni tuntutan peningkatan produksi sekaligus menyusutnya lahan dan kualitas lingkungan. Menurutnya, pola monokultur yang selama ini mendominasi praktik pertanian dinilai semakin tidak adaptif terhadap perubahan iklim. Sebagai alternatif, sistem agroforestri dinilai lebih tangguh karena mengintegrasikan berbagai jenis tanaman dalam satu kawasan lahan. “Agroforestri bukan hanya soal diversifikasi tanaman, tetapi juga upaya membangun kembali keseimbangan ekosistem yang telah rusak,” ujarnya dalam Kuliah Umum Internasional yang digelar Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Agroteknologi Universitas Warmadewa (Unwar) secara daring, Sabtu (11/4).

Dalam pemaparannya, Campera mencontohkan praktik pengelolaan kopi dengan sistem naungan pohon. Berdasarkan hasil riset, keberadaan pohon pelindung mampu menekan serangan hama secara alami serta menjaga stabilitas produksi dalam jangka panjang. Selain itu, pola tanam campuran seperti kopi dengan vanili atau cengkih dinilai mampu memperkuat ketahanan ekonomi petani. Dengan tidak bergantung pada satu komoditas, risiko kerugian akibat fluktuasi pasar maupun gangguan produksi dapat diminimalkan. Konsep ini turut diperkuat melalui pendekatan “land maxing”, yakni strategi optimalisasi lahan dengan mengombinasikan tanaman pangan dan perkebunan berbasis prinsip regeneratif.

Di sisi lain, Bali dinilai memiliki keunggulan khas melalui sistem irigasi tradisional Subak yang telah terbukti menjaga harmoni antara pertanian dan lingkungan selama berabad-abad. “Jika kearifan lokal seperti Subak dipadukan dengan teknologi modern, Bali berpotensi menjadi model pertanian masa depan,” tambahnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan Dekan Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi Unwar, Prof. Dr. Ir. Luh Suriati, M.Si., yang menegaskan bahwa transformasi pertanian harus dilakukan secara menyeluruh. Ia menekankan bahwa pembangunan sektor pertanian ke depan tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga harus memperhatikan efisiensi sumber daya serta keberlanjutan lingkungan.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya hilirisasi hasil riset agar dapat diimplementasikan langsung di tingkat petani. Tanpa dukungan kebijakan, pembiayaan, dan fasilitas lapangan, inovasi berisiko tidak berjalan optimal. Kuliah umum ini menjadi bagian dari kolaborasi riset antara Unwar dan Oxford Brookes University yang telah menghasilkan sejumlah kajian terkait pengembangan agroforestri.

Ke depan, agroforestri dipandang bukan lagi sekadar alternatif, melainkan kebutuhan mendesak dalam menjaga ketahanan pangan. Dengan sinergi antara teknologi, riset, dan kearifan lokal, Bali dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi contoh transformasi pertanian berkelanjutan di tingkat global. 

kampusberdampak universitaswarmadewa SDGs