Menjelang Hari Raya Nyepi, denyut ekonomi masyarakat Bali meningkat seiring aktivitas pembuatan ogoh-ogoh di banjar - banjar.
Tradisi arak-arakan ogoh-ogoh yang digelar sehari sebelum Hari Raya Nyepi tidak lagi sekadar ritual simbolis pengusiran Bhuta Kala, tetapi telah berkembang menjadi penggerak ekonomi berbasis komunitas yang menghadirkan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian daerah.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Warmadewa IB Agung Dharmanegara, Selasa (24/2/2026) mengatakan, proses kreatif ini memicu lonjakan permintaan bahan baku seperti bambu, kayu, besi, cat, kain, hingga perlengkapan audio.
Toko bangunan, perajin lokal, penjual perlengkapan seni, dan pelaku UMKM merasakan peningkatan omzet musiman. Konsumsi rumah tangga yang menjadi komponen terbesar dalam pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali ikut terdorong, meskipun sifatnya jangka pendek dan siklikal setiap tahun.
Pembuatan ogoh-ogoh juga membuka ruang kerja sementara bagi banyak pihak. Seniman patung, tukang kayu, tukang las, desainer visual, penabuh gamelan, hingga kru teknis memperoleh tambahan penghasilan dari proyek tahunan ini.
Bagi generasi muda, keterlibatan dalam proses pembuatan ogoh-ogoh tidak hanya menjadi ajang kreativitas, tetapi juga sarana belajar manajemen proyek, penggalangan dana swadaya, kerja tim, serta pengembangan keterampilan artistik dan teknis.
Dalam perspektif ekonomi kreatif, ogoh-ogoh merupakan praktik nyata industri berbasis komunitas. Produksi dilakukan secara kolektif, pembiayaan bersumber dari swadaya dan donasi, sementara nilai tambah tercipta dari ide, desain, dan inovasi visual.
Rangkaian pawai ogoh-ogoh menjelang Nyepi juga menjadi daya tarik wisata budaya. Wisatawan domestik maupun mancanegara datang untuk menyaksikan parade di berbagai kabupaten/kota di Bali.
Dampaknya dirasakan oleh hotel, restoran, transportasi, hingga pedagang cendera mata. Tradisi ini memperkuat citra Bali sebagai destinasi pariwisata berbasis budaya, bukan sekadar wisata alam atau hiburan.
Momentum ini sekaligus menunjukkan bahwa budaya lokal dapat menjadi daya ungkit ekonomi tanpa kehilangan identitas spiritualnya.
Meski memberikan dampak ekonomi positif, euforia ogoh-ogoh juga menyimpan tantangan. Biaya pembuatan satu ogoh-ogoh dapat mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Jika pembiayaan tidak dirancang secara proporsional, beban sosial berpotensi muncul di tingkat banjar.
Kompetisi antarkelompok yang berlebihan dikhawatirkan menggeser esensi spiritual menjadi ajang gengsi.
Dalam perspektif ekonomi perilaku, dorongan simbolik dan prestise dapat memicu pengeluaran melampaui kapasitas rasional komunitas. Persoalan lingkungan juga menjadi perhatian. Penggunaan styrofoam dan bahan tidak ramah lingkungan meningkatkan volume sampah pasca-pawai.
Tanpa pengelolaan yang baik, keuntungan ekonomi jangka pendek bisa memunculkan biaya eksternalitas lingkungan dalam jangka panjang. Karena itu, inovasi bahan ramah lingkungan dan regulasi berbasis desa adat dinilai penting untuk menjaga keseimbangan antara kreativitas dan keberlanjutan.
Di balik perputaran uang dan aktivitas ekonomi, ogoh-ogoh menyimpan nilai yang lebih dalam, yakni penguatan modal sosial. Gotong royong, swadaya dana, dan solidaritas antargenerasi membangun kepercayaan sosial (social trust) yang menjadi fondasi penting dalam pembangunan ekonomi lokal.
Modal sosial yang kuat menurunkan biaya transaksi, mempercepat koordinasi, serta memperkuat ketahanan komunitas menghadapi guncangan ekonomi.
Ia menilai, ogoh-ogoh tidak semestinya dipandang hanya sebagai peristiwa budaya tahunan, melainkan sebagai ekosistem ekonomi lokal yang perlu diarahkan secara bijak. Pemerintah daerah dapat berperan melalui pembinaan ekonomi kreatif, pelatihan desain berkelanjutan, hingga fasilitasi festival yang terkurasi.
Desa adat pun dapat menyusun pedoman pembiayaan yang proporsional agar semangat ngayah tetap menjadi roh utama tradisi. Pada akhirnya, riuh ogoh-ogoh sehari sebelum Nyepi justru memperlihatkan bagaimana budaya dan ekonomi dapat berjalan seiring.
Tradisi ini menjadi bukti bahwa kekuatan Bali tidak hanya terletak pada panorama alamnya, tetapi pada kemampuannya merawat warisan budaya sambil menggerakkan ekonomi rakyat.
Dari kreativitas musiman tersebut, lahir multiplier effect yang nyata bagi perekonomian sekaligus penguatan nilai spiritual dan kebersamaan masyarakat Bali.