paya menjaga keberlanjutan budaya, ekonomi, dan lingkungan kembali ditunjukkan oleh tim dosen dan mahasiswa Universitas Warmadewa (Unwar) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Desa Adat Peguyangan, Denpasar. Tahun ini, tim PkM merancang Detail Engineering Drawing (DED) untuk fasilitas penunjang berbasis ekonomi berkelanjutan dengan mengusung dua konsep utama, yakni arsitektur bambu dan adaptive reuse.
Program ini dilaksanakan di kawasan Pura Desa dan Pura Puseh Desa Adat Peguyangan yang memiliki lahan lebih dari 1,3 hektar. Selain menjadi pusat kegiatan spiritual, kawasan ini juga menyimpan potensi besar sebagai penggerak ekonomi desa melalui pemanfaatan lahan pelaba pura. Sayangnya, pandemi Covid-19 sempat meninggalkan banyak bangunan terbengkalai, termasuk kolam dan sejumlah gedung yang mangkrak. Karena itu, tim PkM hadir dengan rancangan baru yang memberi nilai tambah sekaligus menghidupkan kembali kawasan pura.
Salah satu rancangan utama adalah pembangunan restoran berbasis bambu di area strategis dekat kolam. Material bambu dipilih bukan hanya karena ramah lingkungan dan melimpah di Bali, tetapi juga mampu menciptakan suasana alami yang sejalan dengan tren wisata kuliner hijau.
“Bambu memiliki keunggulan cepat tumbuh, menyerap karbon, serta menghadirkan estetika tropis yang kuat. Dengan desain organik, restoran ini diharapkan menjadi ikon baru sekaligus mendukung pemasukan desa,” jelas Ketua Tim PkM Unwar, Ir. I Gede Surya Darmawan, S.T., M.T.
Restoran bambu ini nantinya tidak hanya menjadi tempat makan, tetapi juga ruang interaksi sosial yang terhubung dengan kolam pancing dan area makan outdoor. Konsep ini dirancang agar pengunjung dapat menikmati hidangan sambil berwisata, sehingga kawasan pura berfungsi sebagai ruang multifungsi yang hidup kembali.
Selain restoran, tim PkM juga menerapkan konsep adaptive reuse untuk memanfaatkan kembali bangunan yang terbengkalai pasca pandemi. Struktur gedung yang sebelumnya mangkrak dirancang ulang menjadi Bagha Utsaha Padruwe Desa Adat (BUPDA) sebagai pusat pengelolaan usaha desa adat di lantai bawah, sementara lantai atas dimanfaatkan sebagai ruang duduk dengan pemandangan sawah.
Tidak hanya itu, kolam yang lama tidak digunakan juga ditransformasi menjadi fasilitas memancing sekaligus area rekreasi pendukung wisata kuliner. Menurut Surya Darmawan, pendekatan ini membuktikan bahwa arsitektur bisa menjadi solusi berkelanjutan tanpa harus melakukan pembangunan baru yang boros biaya dan sumber daya.
“Adaptive reuse memungkinkan kita menghargai struktur lama sekaligus memberi napas baru sesuai kebutuhan masa kini. Ini contoh nyata bagaimana arsitektur bisa menjadi strategi keberlanjutan,” tambahnya.
Keunikan program ini terletak pada keterlibatan aktif masyarakat, khususnya generasi muda Desa Adat Peguyangan. Para remaja tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga dilatih menggunakan perangkat teknologi modern seperti total station, AutoCAD, SketchUp, hingga Excel untuk menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB).
“Kami ingin generasi muda desa memiliki keterampilan yang relevan dengan dunia arsitektur dan konstruksi. Dengan begitu, mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi aktor pembangunan desa mereka sendiri,” ungkap salah satu anggota tim PkM.
Langkah ini sejalan dengan semangat Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) serta mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi, di mana mahasiswa memperoleh pengalaman nyata di luar kelas, sementara dosen memberikan kontribusi langsung yang bermanfaat bagi masyarakat.
Melalui sinergi antara konsep arsitektur berkelanjutan, pemanfaatan kembali ruang terbengkalai, dan keterlibatan generasi muda, program PkM Unwar diharapkan dapat menjadi model percontohan pembangunan desa adat yang harmonis, produktif, dan berdaya saing di era modern