Kenalkan Inovasi Pengolahan Limbah Kulit Salak Jadi Minuman Kesehatan

October 02, 2025 |
Kenalkan Inovasi Pengolahan Limbah Kulit Salak Jadi Minuman Kesehatan
Kenalkan Inovasi Pengolahan Limbah Kulit Salak Jadi Minuman Kesehatan

Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dari Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi (FPST) Universitas Warmadewa (Unwar) memperkenalkan metode pengolahan limbah kulit salak menjadi minuman fungsional untuk kesehatan.

Kegiatan ini berlangsung di Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, pada Minggu (3/8/2025), dengan melibatkan Tim Penggerak PKK setempat.

Pemanfaatan kulit salak ini menjadi bagian dari upaya mendukung kebijakan pengelolaan sampah berbasis sumber, sekaligus memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang potensi bahan buangan yang bernilai ekonomi. Inisiatif ini juga merupakan implementasi dari konsep ekonomi sirkular.

Ketua Tim PKM, Dr. I Nengah Muliarta, S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa kulit buah salak (Salacca zalacca) sering dianggap limbah, padahal mengandung senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan, terutama dalam pengendalian kadar gula darah.

“Permasalahan limbah kulit salak tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan sampah, tetapi juga mencerminkan kurangnya kesadaran akan nilai ekonomis dari bahan buangan tersebut,” kata Muliarta.

Menurutnya, meningkatnya kesadaran akan keberlanjutan dan praktik ekonomi sirkular membuka peluang besar untuk mengubah kulit salak menjadi produk bernilai tambah, seperti teh herbal.

Produk ini tak hanya berkontribusi terhadap pengurangan limbah, tetapi juga menawarkan manfaat kesehatan, seperti membantu mengontrol kadar gula darah.

Lebih lanjut, Muliarta menyampaikan bahwa kulit salak juga memiliki kemampuan menurunkan kadar gula darah serta ureum kreatinin, sehingga berpotensi sebagai bahan antidiabetik.

“Dengan pemahaman yang lebih dalam tentang tantangan yang dihadapi dalam pengendalian gula darah dan potensi pemanfaatan kulit salak, maka dapat mendorong inovasi dalam pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti bahwa dalam beberapa dekade terakhir, jumlah penderita diabetes mellitus, khususnya tipe 2, terus meningkat secara global. Diabetes diketahui sebagai salah satu penyebab utama komplikasi kesehatan serius dan berada dalam daftar 10 besar penyebab kematian dunia.

Penyakit ini, kata Muliarta, berkaitan erat dengan pola makan tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, serta faktor genetik, sehingga pengendalian kadar gula darah menjadi tantangan besar yang memerlukan pendekatan multidisipliner.

Kampus Berdampak